
Rabu, 25 Februari 2026, Program Studi Magister Ekonomi Pertanian (MEP) Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan kegiatan widyakarya sebagai bagian dari pembelajaran lapangan bagi mahasiswa. Pada kegiatan ini, mahasiswa MEP angkatan Genap 2024 mengunjungi dua lokasi kegiatan widyakarya yaitu Jogja Agro Park (JAP) dan Griya Coklat Nglanggeran. Pemilihan dua lokasi ini ditujukan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai praktik ekonomi pertanian dari sisi hulu hingga hilir.
Pada kunjungan pertama di Jogja Agro Park, mahasiswa mempelajari penerapan integrated farming yang dikembangkan sebagai bagian dari kawasan edukasi pertanian. Berbagai komoditas hortikultura, seperti anggur, nanas, pakcoy, dan selada dibudidayakan dengan dukungan teknologi pertanian modern diantaranya sistem irigasi tetes dan aeroponik. Penerapan teknologi tersebut menunjukkan upaya efisiensi penggunaan air dan lahan dalam proses produksi pertanian.

Selain itu, mahasiswa juga mengamati penerapan konsep ekonomi sirkular melalui integrasi antara usaha tanaman dan peternakan. Ternak seperti kambing etawa, ayam KUB, dan sapi PO dikelola secara terpadu dengan lahan budidaya tanaman. Limbah ternak yang dihasilkan tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah menjadi pupuk fermentasi untuk mendukung kegiatan budidaya. Pola ini memberikan gambaran bahwa pengelolaan limbah yang tepat dapat menekan biaya input produksi sekaligus mendukung sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Griya Coklat Nglanggeran untuk mempelajari aspek hilirisasi agribisnis. Di lokasi ini, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai proses pengolahan kakao dari bahan mentah menjadi produk bernilai tambah, seperti bubuk coklat dan dodol coklat. Dari kegiatan tersebut, mahasiswa melihat bahwa keberlanjutan usaha tidak hanya ditentukan oleh proses produksi, tetapi juga oleh kemitraan yang terbangun dengan petani kakao lokal.

Griya Coklat Nglanggeran juga memberikan contoh praktik ekonomi inklusif melalui pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan dalam proses produksi hingga pemasaran. Dengan pengelolaan usaha yang baik, unit agribisnis ini mampu berkembang tidak hanya sebagai sentra olahan kakao, tetapi juga sebagai daya tarik wisata yang diminati pengunjung dari dalam maupun luar negeri.
Melalui kegiatan widyakarya ini, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar kontekstual yang memperkaya pemahaman mereka terhadap implementasi teori yang dipelajari di kelas dengan implementasi di lapangan. Pengalaman widyakarya ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi, kelembagaan yang kuat, dan sinergi antarpelaku usaha memiliki peran penting dalam mewujudkan sistem agribisnis yang efisien, berkelanjutan, dan bernilai tambah.
Ke depan, harapannya model inkubasi agribisnis seperti yang diterapkan di Jogja Agro Park diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendorong lahirnya lebih banyak petani muda yang adaptif terhadap teknologi. Sementara itu, penguatan sektor hilir seperti yang dilakukan Griya Coklat Nglanggeran juga diharapkan dapat direplikasi pada berbagai komoditas lain, sehingga petani tidak hanya bergantung pada penjualan produk mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga.
Kegiatan widyakarya ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa MEP untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan. Pengalaman widyakarya ini menjadi momentum berharga sebagai pengingat bahwa pembelajaran tidak hanya diperoleh di kelas, tetapi juga dari kondisi nyata di lapangan, sekaligus membentuk pribadi yang lebih adaptif dan fleksibel. Terakhir, sampai jumpa pada perjalanan widyakarya berikutnya!
Penulis: Dian Rahmanisa
Dokumentasi: MEP Genap 2024